Memiliki anak yang sehat merupakan impian semua orang tua. Begitu pula dengan ibu Rokhatun dan suaminya. Saat Narita lahir tidak ada yang berbeda seperti anak-anak lainnya. Perkembangannya secara umum sehat , dari berat badan hingga kondisi fisiknya. Namun sampai menginjak 5 tahunan, Ibu Rokhatun merasa ada perbedaan Narita dibanding anak anak lainnya, Narita cenderung pasif dan motoriknya terlambat. Ketidataktahuan informasi seputar tumbuh kembang anak membuat Ibu Rokhatun hanya bisa menunggu tanpa tahu harus berbuat apa apa dan sedikit merasakan kecemasan akan kondisi putrinya. Tetangga dan keluarga bilang “tidak perlu dipikirkan, semua anak pertama juga pasti begitu,” tuturnya.
Namun insting seorang ibu tidak pernah salah, dalam masa kekuatirannya Ibu Rokhatun akhirnya membawa Narita rumah sakit untuk mendapatkan jawaban atas kegelisahannya selama ini.
Dalam ihitiar tersebut Narita dibawa ke dokter anak, kemudian dirujuk ke dokter saraf anak. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Narita di diagnosa Cerebral Palsy ( CP). Hal ini tentunya sangat mengagetkannya. Kami masih bingung harus berbuat apa, apalagi Di tengah keadaan ekonomi yang cukup sulit ini, tapi saya tetap yakin dan akan berusaha agar Narita bisa sembuh ,” ungkapnya dengan penuh ketegaran.
Ibu Rokhatun dan suami tinggal di sebuah rumah petak yang disewa dan dijadikan juga sebagai tempat usaha. Sang suami mencari nafkah dengan usaha mengecas dan jual beli aki bekas. Walaupun penghasilan tidak menentu, Ibu Rokhatun dan suami tetap mengusahan yang terbaik untuk pengobatan Narita.
Akhirnya Narita mulai melakukan terapi fisik di RSUD Cikaret, mobilitas Narita terbatas sehingga kemanapun Ibu Rokhatun harus mengendong Narita termasuk setiap akan menjalani terapi di RS, naik turun angkot sambil mengendong Narita. Tapi semua proses itu dijalaninya dengan penuh ketegaran
Jika besok harus ke rumah sakit, saya dan suami harus mencari uang dulu sehari sebelumnya. Jika uang tidak cukup, jadi hanya saya yang mengantar Narita terapi ke RS , “ ungkapnya.
Dijauhi Tetanggga
Situasi lainnya yang dirasakan sebagai sebuah cobaan dalam kondisi berat ini yaitu dijauhi oleh lingkungan sekitar, hanya karena memiliki anak yang special, ibu Rokhatun menerima perlakuan yang kurang mengenakan. Namun ibu Rokhatun akhirnya harus berdamai dengan keadaan dan hanya focus pada perkembangan Narita, Ia tidak mau konsentrasinya terpecah untuk kesembuhan Narita. Sesuai oleh arahan dokter dan terapis Ibu Rokhatun sering membawa Narita ke tempat ramai seperti Pasar dan Mesjid, karena pada awalnya masih Narita takut dengan keramaian, tak jarang ia akan tantrum ketika berada di tempat ramai. Namun, dengan kegigihan Ibu Rokhatun, tidak peduli dengan pandangan orang lain. Selama Narita tidak menganggu orang lain, ibu Rokhatun terus membawa Narita ke tempat ramai agar narita terbiasa dan bisa beradaptasi dengan kondisi yang berbeda beda. Alhamdulillah Sekarang Narita lebih tenang di tempat ramai , “ uangkapnya dengan syukur.
Bertemu dengan Rumah Autis
Usia Narita yang semakin besar dan bobot tubuhnya yang semakin berat, membuat ibu Rokhatun semakin kesulitan saat membawa terapi ke rumah sakit. Usia Narita sudah menginjak 7 tahun namun belum bisa berjalan dan saaat itu Narita tidak memiliki kursi Roda. Namun akhirnya Lewat teman yang juga memiliki anak special, Ibu Rokhatun diperkenalkan kepada ibu Aswita Utami ( kepala Cabang Rumah Autis Depok saat itu) . Ibu Rokhatun menginformasikan Ibu Aswita perihal Narita dan keluarga. Kemudian Ibu Aswita meminta ibu Rokhatun untuk datang ke Rumah Autis Depok untuk berkonsultasi.
Allhamdulillah semenjak saat itu Narita dapat terapi secara gratis di Rumah Autis Depok dari bulan Februari 2014 sampai sekarang. Dengan program yang dijalani terapi serta menjalankan program di kelas kemandirian fungsional. Pelan tapi pasti, Narita sudah bisa mulai berjalan, menggenggam, dan makan sendiri bahkan Narita bisa buang air kecil dengan benar, “ uangkap Bu Rokhatun dengan antusias
Ibu Rokhatun kemudian melanjutkan melatih ketika dirumah, apa yang diajarkan terapisnya di Rumah Autis Depok diikuti dan dilanjutkan berlatih di Rumah. Perkembangan ini tentunya juga merupakan berkat usaha dan doa orang tua Narita.
Hingga Saat ini Ibu Rokhatun harus bekerja mencari tambahan untuk membantu suami mencari nafkah, dengan siaga suami yang bergantian untuk menjaga dan medampingi Narita, Ibu Rokhatun menjadi Ibu berdaya sebagai salah satu relawan Rumah Autis Depok bagian umum dari pagi sampai siang hari, bertugas membersihkan area Ruang belajar dan terapi di Rumah Autis Depok. Jika Narita masuk kelas pagi maka suami akan datang disiang hari untuk menjemput Narita pulang. Namun jika Narita masuk siang hari, maka ibu Rokhatun akan menunggu sampai Narita selesai dan Kembali ke rumah saat Narita pulang.
Saat ini perkembangan Narita sudah jauh lebih baik. “Harapan saya tidak muluk-muluk, tidak perlu Narita jago dalam matematika ataupun pelajaran sekolah, yang penting Narita sehat fisiknya , semakin mandiri dan nantinya bisa melakukan hal hal yang produktif untuk masa depannya“ ungkapnya dengan penuh semangat.
