Respon emosional yang berlebihan dari guru atau ortu (marah,bentak,diam,dll) TIDAK EFEKTIF dalam menghadapi tantrum.sering kali ortu yang ikut ngamuk dan membuat situasi tambah runyam,tantrum anak pun kadang meningkat.
Sebaliknya,orang tua yang “MENYERAH” ikuti kemauan anak, membuat anak belajar bahwa tantrum adalah cara yang efektif ketika dirinya menginginkan sesuatu.
Meminimalisir kemungkinan anak berprilaku tantrum
-Kenali kemampuan anak ,berikan tugas sesuai kemampuanya.harus dipastikan bahwa anak bisa mengerjakan.
-Komunikasikan dengan jelas apa yang harus dilakukan oleh anak . pastikan anak paham tugasnya sebelum diperintahkan melakukan sesuatu.
-Tetapkan aturan yang jelas dan terapkan dengan konsisten kepada anak.
-Bikin perjanjian yang disepakati langsung oleh anak .
-Tentukan alternatif kegiatan yang mungkin dipilih anak.
Ketika tantrum datang
-Hindari kemungkinan terjadinya cidera fisik pad anak .
-Minimalisasi ‘PENONTON’
-Singkirkan/kosongkan ruangan dari benda yang berpotensi dapat melukai anak/memberi ide pada anak untuk melukai dirinya dan orang lain.
-Memindahkan anak dari lokasi tersebut jika diperlukan.
-Menghentikan perilaku agresif
Teknik Menghadapi Tantrum
-Tetap tenang,jangan kehilangan kendali diri.
-Sampaikan perilaku yang kita ingin dilakukan oleh anak dengan penggunaan kata sedikit mungkin.
-Bicara sesedikit mungkin dan HINDARI MENGOMEL.
-Beri anak waktu merespon arahan kita
-Sebaiknya membatasi kontak mata dengan anak
Jika akhirnya anak suda tenang, ajak anak bicara (jika kemampuan verbalnya baik) dan berikan pelukan hangat, jangan lupa arahkan anak melanjutkan aktivitas atau tugas yang tadi ia tinggalkan.
Jangan berikan hadiah atau turutin keingininan anak meskipun perilaku tantrum telah selesai. Guru atau orang tua bisa saja mempermudah tugas untuk hindari timbul kembali ras frustasi pada anak.
