Tanda-tanda Eka menyandang (autis sebenarnya sudah terlihat saat ia berusia 7 bulan. Setiap namanya dipanggil, Eka kecil tak pernah merespon.
“Kan kalau anak normal umur segitu dipanggil namanya biasanya merespon, tapi kalo Eka nggak mau. Biarpun banyak orang, dia mah cuek aja,” ungkap Utini.
Awalnya Utini dan suaminya tak curiga. Keduanya menduga itu hal yang normal dan biasa terjadi. “Dia ‘kan masih kecil dan saya juga belum pengalaman mengasuh anak,” kata wanita kelahiran Cirebon, 4 Juli 1980 itu.
Ketika menginjak usia 2 tahun, gejala-gejala autis Eka kian terlihat. Matanya masih tidak mau menatap. Eka yang dilahirkan di Cirebon, 20 November 2000, hanya diam dan tidak merespons setiap orang yg memanggil namanya. Hingga akhirnya sebuah saran untuk membawa Eka ke dokter diterimanya dari seorang guru TK yang tak lain merupakan pemilik kontrakan mereka.
Dengan pengetahuan yang sangat minim tentang autis, kedua pasangan muda itu terus berikhtiar menterapi Eka. Saking ingin anaknya sembuh, mereka menjadi mudah terpengaruh dengan perkataan orang di sekitarnya.
“Saya dapat masukan dari orangtua di kampung, kalau Eka mah kayaknya kesurupan gitu.. soalnya kan tatapannya kosong. Akhirnya saya coba beberapa kali ke berbagai pengobatan alternatif. Mulai dari tabib di Bandung, pergi ke dukun, hingga melakukan ritual-ritual babi ngepet kami pernah lakukan, tapi ya tetap nggak ada perubahan,” ungkap Utini.
Di tengah awan gundah yang menyelimutinya, sebuah kabar Utini dapatkan. Di akhir tahun 2008, ia mendapat kabar dari sahabat sekaligus penyuplai baju-baju dagangannya yang tinggal di daerah Warakas, Tanjung Priok. Sahabatnya itu memberitahukan tentang keberadan tempat terapi yang baru saja berdiri, yaitu Rumah Autis - Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah cabang Tanjung Priok.
Utini bergegas mendatangi Rumah Autis untuk bertemu dengan pengurusnya. Ujung kisahnya berakhir manis. Eka akhirnya diterima di Rumah Autis dan mendapatkan terapi tanpa dipungut biaya sedikitpun.
“Alhamdulillah, Eka bisa diterima di Rumah Autis,” kata Utini mengucap syukur.
Awal bergabung di Rumah Autis, Eka masih hiperaktif. “Susah banget diamnya, dia masih suka ngamuk, pecahin gelas, piring, bahkan sampai bikin jebol sekat ruangan terapi,” kenang Utini.
Lambat laun, perilaku Eka mulai mengalami perubahan. Dalam waktu 6 bulan, Eka sudah bisa menunjuk sesuatu dengan jari telunjuknya. Dan dalam waktu kurang dari 1 tahun, Eka mampu berbicara, meskipun baru beberapa kata. hal yang lebih menggembirakan eka mengalami kemajuan dalam hal komunikasi akhirnya setelah 6 bulan membisuJ eka bisa berbicara bahkan menjawab pernyaaan dan terkadang melontarkan kata2 yang membuat orang yang mendengarnya tersenyum….
Kemajuan perilaku Eka ini sangat menyentuh hati ibunda Eka. Kini Eka sudah mampu membaca sedikit demi sedikit dan belajar mengaji. “Eka sudah sampai Iqra 2,” ungkap Utini gembira.
“Harapan saya sih, biarpun Eka memiliki kekurangan tapi saya ingin eka memiliki kemandirian. Soalnya umur kan nggak ada yang tau, kalo kita yang meninggal duluan trus Eka belum memiliki kemandirian, bagaimana jadinya,” harap Utini.
Karena itu, Utini juga berharap, agar Rumah Autis Cabang Tanjung Priok segera mendirikan sekolah untuk anak-anak seperti Eka, ”Biar Eka lebih baik lagi dan lebih terarah dari sekarang ini,” lanjutnya.
Sumber: Majalah Derap Cinta 2012
