Profil Donatur
       Logout
Phone: (+62) 857 1539 2888 info.cagarfoundation@gmail.com

Cagar

  • Home
  • Layanan Donatur
    • Registrasi Donatur
    • Konfirmasi Donasi
    • Rekening Donasi
    • Jemput Donasi
    • Login Donatur
  • Program
    • Be A Special
      • Penyerahan donasi beasiswa pendidikan
      • Be A Special
    • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
      • BERKAH KURBAN BAGI SESAMA
    • Nusa Indonesia
      • Rumah Zakat Menyalurkan Bantuan Pangan (Nutrisi Anak Spesial) kepada anak binaan CAGAR Foundation
      • Ucapan Terima kasih dan Apresiasi kepada yang telah berkontribusi untuk program nusa indonesia
      • PROGRAM NUSA
    • Program Kami
  • Panduan
    • Panduan Donasi Online
    • Panduan Jemput Donasi
    • Semua Panduan
  • Berita
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Kontak
  • Galeri
  • Donasi
23 Okt

Perilaku Malu di Kalangan Orang Tua dan Dampaknya Terhadap ABK

2018-10-23 06:21:28 By Cagar Foundation Berita 1029 Views

Sebagian orang tua masih merasa malu memiliki anak difabel. Biasanya, orang tua menyembunyikan keberadaan anak difabelnya. Dampaknya, anak tidak dapat berkembang dan jauh dari lingkungan sosial.

Hal tersebut terjadi pada seorang anak perempuan difabel berusia 10 tahun bernama Dina. Sebagaimana dilansir media Kompas, Dina tersesat dan beruntung ditemukan petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Jakarta Utara. Petugas merasa kebingungan karena Dina tidak bisa membaca dan menulis ketika dimintai keterangan alamat rumah dan orang tuanya.

Dina, merupakan korban atas perilaku orang tua yang merasa malu karena ia salah satu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Alih-alih memberinya pendidikan sebagai bagian dari hak anak. Justru orang tua mengacuhkannya. Dampaknya, Dina tidak dapat berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya.

Ada beberapa alasan orang tua tidak menyekolahkan anak difabel, seperti khawatir anaknya dijauhi teman-temannya, tidak dapat mengikuti pelajaran, perasaan tidak tega, bahkan karena malu dengan kondisi anaknya. Namun, apapun alasannya tidak memberikan pendidikan bagi anak sama halnya dengan merampas hak anak. Perilaku malu yang tumbuh dalam diri orang tua dengan anaknya yang difabel, akan membawa dampak negatif bagi orang tua itu sendiri. Selain itu, dampak buruk juga dialami anak.

Ada beberapa fenomena kekhawatiran-kekhawatiran yang sering dipikirkan orang tua karena merasa malu untuk mengakui anak difabel. Seperti, khawatir anak tidak didaftarkan dalam Kartu Keluarga (KK), yang itu berlanjut kepada anak difabel yang kemudian sulit memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) ketika sudah masuk usianya kelak.

Peristiwa tersebut cukuplah menjadi sebuah pembelajaran. Ego orang tua dari perasaan khawatir dan rasa malu yang diwujudkan dengan tidak menyekolahkan anak difabel, berdampak masalah bagi banyak pihak. Jika sudah demikian, maka dampak dari perilaku malu orang tua tidak hanya berakibat pada hilangnya hak dasar pada difabel. Lebih dari itu, orang tua justru akan memiliki beban seumur hidupnya, karena kesempatan bagi anak untuk belajar mandiri telah dibatasi sedari pendidikannya.

Untuk itu, orang tua tidak seharusnya malu atas apapun anak yang dititipkan Tuhan. Barangkali setiap dari manusia bisa bertanya pada jiwa masing-masing, tentang hakekat hidup dan kehidupan. Sehingga tidak ada lagi cemooh yang kita lakukan atas orang lain. Sehingga tidak ada lagi tekanan rasa malu pada orang tua yang berdampak pada hilangnya seluruh hak anak difabel.

Sudah saatnya mengubah perilaku malu yang tumbuh mengakar pada orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus dengan pengertian dan keberterimaan. Terlebih, seorang anak membutuhkan cinta kasih dari orang tuanya. Bentuk konkretnya, yakni dengan berusaha memberikan hak-haknya.

Bagaimana semestinya orang tua bersikap?

Theresia Siwi Susilaningrum, ibu seorang anak dengan Down Syndrome (DS) bernama Nathan Tristhan Purwadi (8), mengungkapkan kberterimaannya dirinya. Bentuk penerimaan itu diwujudkan dengan berusaha mendampingi anaknya sebaik mungkin yang bisa dilakukan.

Siwi-sapaan akrabnya-juga menjalin komunikasi dengan komunitas dengan harapan dapat berbagi dan saling menguatkan antar keluarga yang sama-sama memiliki anak difabel. ia juga senantiasa mengamati tumbuh-kembang anaknya dengan mengikuti terapi sesuai dengan kebutuhan sang buah hati. “Sebagai orang tua, saya intens bersosialisasi tentang kondisi anak saya. Dengan harapan kepedulian lingkungan dan masyarakat semakin meningkat,” ungkap Siwi.

Hal serupa juga dilakukan Emi Marsetyawati, seorang ibu yang juga memiliki anak DS, bernama Muhammad Khoirul Fahmi. Siwi dan Emi, sebagai orangtua juga berusaha menggali bakat anak-anak mereka. Untuk kemudian memberikannya stimulan atau rangsangan dalam mengoptimalkan bakat anak.

“Yang paling penting lagi, jangan pernah memaksakan ‘anak istimewa’ menerima lingkungannya. Melainkan lingkunganlah yang harus dapat menerimanya,” tambah Siwi, kepada Solider melalui pesan WhatsApps. [Harta Nining Wijaya]

Sumber : Solider.id

  • Share This Story

Program Kami

  • Be A Special
  • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
  • Nusa Indonesia
  • SEDEKAH JUM'AT
  • SUPER SPESIAL
  • RUMAH ISTIMEWA
  • MAPAN IBK (Program Kemandirian & Pemberdayaan Insan Berkemampuan Khusus)
  • Hasil Karya Mapan IBK

Berita Terbaru

  • Popular
  • Recent
  • Kisah Imam Al Warraq, Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus 2018-12-12 13:34:16
  • 10 Penyandang Disabilitas Di Indonesia Yang Berprestasi 2020-01-28 11:13:52
  • Kisah Anak-anak Penghafal Qur’an yang Akan Membuatmu Menangis Haru 2021-06-22 10:10:29
  • apa itu disabilitas sensorik? 2019-11-13 13:55:24
  • Akses Kesehatan untuk Semua: Skrining Jantung IDAI kepada Anak Berkebutuhan Khusus Rumah Autis Tanjung Priok 2026-04-09 10:05:43
  • Ramadhan Inklusif Bersama Cagar Foundation 2026-04-07 15:02:07
  • Ramadhan Ceria, Semua Anak Istimewa 2026-04-07 11:48:44
  • Petani Binaan CIF “Diserbu” 2026-01-29 10:37:30
  • >

About Us

YAYASAN CAHAYA KELUARGA FITRAH

  • Kantor  :  

    Jl.Dr.Ratna No.10 B, Jatikramat, Jatiasih. Bekasi.

  • Phone  : 

    (+62) 857 1539 2888

  • Email   :

    info.cagarfoundation@gmail.com

Social Media

Follow Our Social Media:

  • Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah
  • CagarFoundation
  • cagarfoundation

© Copyright 2023 | CAGAR Foundation