Setiap anak lahir dengan keistimewaan masing-masing. Hal ini jugalah yang diyakini Alindi Nayanggita (38). Memiliki dua anak dari pernikahannya dengan sang suami, putra sulungnya, Tara (8), ternyata didiagnosis memiliki autisme pada usia 2,5 tahun.
Mulanya, Alindi menyadari ada yang berbeda dari putranya karena tidak pernah menengok ketika dipanggil. Kala itu, usianya baru sekitar 1,5 tahun. Meski begitu, kekhawatirannya ini sempat disanggah oleh keluarganya. Karena katanya, anak laki-laki biasanya akan jalan lebih dulu dan telat berbicara.
"Biasalah ya kalau keluarga dekat bilang 'Sudahlah kalau anak laki-laki gitu pasti telat bicara, pasti jalan duluan bicara nanti. Jadi kamu tenang aja enggak usah khawatir dulu'. Tapi yang namanya perasaan ibu tuh kayak sudah terdeteksi sendiri, kayak nih ada something wrong sama anak gue nih," cerita Alindi kepada kumparanMOM dalam program Cerita Ibu.
Setelah kekhawatirannya terus muncul, akhirnya Alindi dan suami membawa Tara ke dokter tumbuh kembang anak. Tidak tanggung-tanggung, ada enam dokter yang didatangi. Tiga dari dokter menyatakan Tara mengalami speech delay, namun tidak dijelaskan lebih jelas apa yang penyebabnya. Dan dua dokter lainnya menyebut Tara masuk dalam spektrum autisme.
"Ada satu dokter yang memang rekomendasi dari teman juga. Nah, itu memang dokter yang spesialis anak special needs khususnya autisme. Aku bawa Tara ke situ, dia hanya lihat Tara 30 detik, dia bilang 'anak ibu autis'. Di situlah aku baru percaya gitu, kayak oke berarti dia memang autis nih," cerita dia.
Sebagai ibu baru, Alindi sangat syok mendengar diagnosis tersebut. Tidak dipungkiri, ia beberapa kali menangis bersama suami. Bahkan, ia sempat menyalahkan diri sendiri dan mempertanyakan apa yang salah selama 2,5 tahun menjadi ibu dari Tara.
Salah satu reaksi yang membuatnya cukup sedih datang dari keluarga sendiri, yang kala itu belum banyak mengetahui seputar autisme.
"Dari orang tua, 'kamu tuh waktu hamil makan apa sih ya? Gara-gara kebanyakan makan seafood ya? Apa waktu itu kamu kecapekan? Kamu tuh enggak jaga makan kali waktu itu.'. Gitu-gitu yang keluar. Jujur waktu itu aku nangis sama suami, kayak kenapa sih aku harus digituin? Maksudnya, kita tuh sudah sedih ya, dapat diagnosa itu awal-awal sudah sedih. Sudah ngerasa bersalah, enggak usahlah ditambahin gitu lagi," tutur Alindi.
Beruntung, sang suami selalu mendampingi dan meyakinkan bahwa kondisi Tara baik-baik saja, lalu tidak perlu memikirkan omongan orang lain.
"Intinya kayak nyalahin ibunya karena kan memang sebenarnya ibu yang mengandung, mereka pikirnya pasti ada nih ada faktor dari kamu. Tapi sih ujung-ujungnya mereka pasti accept gitu dan membantu ujung-ujungnya mensupport aku," kata dia.
Setelah dokter tersebut mendiagnosis anaknya memiliki autisme, Tara harus menjalani intervensi dengan behaviour theraphy. Dalam seminggu, si kecil menjalani terapi sebanyak lima kali, dan dalam sehari bisa selama 7 jam.
Mengetahui banyaknya terapi yang harus dijalani Tara, Alindi membuat keputusan yang tidak mudah: keluar dari pekerjaan yang sedang berada di puncak kariernya. Ya Moms, sebuah keputusan yang tidak mudah, tetapi ia tidak menyesalinya.
"Terus aku bilang ke suami, ya sudah berarti mau enggak mau, bukan aku korban dari pekerjaan. Tapi pilihanku untuk resign dari pekerjaanku," beber Alindi.
Menurutnya, memutuskan untuk keluar dari pekerjaan bukan berarti mengorbankan diri, tetapi pilihan hidup yang harus dijalani sebagai seorang ibu. Dan hingga saat ini, Alindi tidak menyesali keputusannya tersebut.
"Tapi aku enggak menyesal memilih pilihan ini karena memang perkembangannya terlihat banget pada saat aku fokus untuk mendampingi Tara terapi. Dan alhamdulillah sih sekarang memang progresnya itu perkembangannya itu cukup baik ya dari awal dia, dia baru bisa ngomong 3,5 tahun," jelas dia.
Dan saat ini, Tara sudah berumur delapan tahun dan total menjalani lima tahun terapi. Tara sendiri bersekolah di sekolah inklusi, tetapi untuk berkomunikasi sudah mengalami banyak progres. Bahkan, Alindi mengungkapkan sang anak sudah sangat bawel dan tidak berhenti berbicara.
https://kumparan.com/kumparanmom/cerita-ibu-saya-tinggalkan-karier-untuk-fokus-mengasuh-anak-yang-punya-autisme-1zwWQErnJVa/full
