Penyandang disabilitas perkembangan (persons with developmental disorders) kerap menghadapi beragam tantangan, diantaranya tingkat kualitas hidup yang kurang baik, masalah ekonomi serta rendahnya pemahaman untuk mengakses layanan Kesehatan serta fasilitas pendukung lainnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2020, terdapat 22.5 juta penyandang disabilitas di Indonesia.
Hisatoshi Kato (Staf Khusus untuk Person with Developmental Disorders, Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Jepang) bersama H.E. Madam Michiyo Takagi (Former Secretary General of National Diet Members Caucus on Developmental Disorder of Japan / Former Member, the House of Representatives / Advisor, Japan Developmental Disorder Network), Mr. Masafumi Hizume (Direktur Riset, National Center for Persons with Severe Intellectual Disabilities, Nozominosono), Mr. Hironobu Ichikawa (Presiden dari Japan Developmental Disorder Network) mengadakan diskusi dengan Cagar Fondation terkait perkembangan penyandang disabilitas di Indonesia.
Acara diskusi itu di adakan 3 Agustus 2022 di ruang tamu rumah autis cagar foundation Jati Asih, Bekasi dan ini merupakan bagian riset internasional tentang disabilitas perkembangan (developmental disorder) di Asia Tenggara. Kolaborasi ini dilakukan oleh the National Center for Persons with Severe Intellectual Disabilities, Nozominosono, Jepang dan LSPR Institute of Communication and Business of Indonesia, dengan dukungan dari the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA)
Dalam diskusi itu membahas tentang upaya penanganan disabilitas di negara-negara asia tenggara khususnya di Indonesia yang masih lemah dan belum menjadi prioritas pemerintah untuk ditangani, Mr. Hisatoshi Kato mengatakan “ kalau penanganan disabilitas di Jepang, hal yang pertama yang harus dilakukan dalam pendidikan anak-anak disabilitas adalah mengedukasi keluarga-nya terlebih dahulu, karena interaksi anak tersebut akan lebih intensif bersama keluarga dirumah, jika orang tua sudah teredukasi maka akan ada bantuan yang lebih dari pemerintah.
Persoalan penanganan penyandang disabilitas di Indonesia sangatlah kompleks dari mulai ketidaksinergian pemerintah antara kementrian kesehatan, kementrian sosial dan kementrian pendidikan bahkan terkadang program-program dari pemerintah tidak sesuai dengan apa yang menjadi realitas di lapangan, lalu pergantian pejabat yang membuat kebijakannya pun berganti menjadi penghambat biokrasi dengan pemerintah.
Organisasi atau yayasan yang bergerak dibidang ini pun berpecah belah, yang harusnya mereka semua bersatu bersama dengan pemerintah untuk merumuskan strategi untuk menangani persoalan anak-anak disabilitas yang ada di Indonesia.
Hasil dari diskusi ini di tutup oleh Mr. Kato sangat senang berbagi pengalaman di rumah autis cagar foundation untuk bahan riset internasional tentang disabilitas perkembangan (developmental disorter)di Asia tenggara , pertemuan itu dlanjutkan oleh kunjungan ke kelas-kelas IBK dirumah autis cadar foundation.
