Profil Donatur
       Logout
Phone: (+62) 857 1539 2888 info.cagarfoundation@gmail.com

Cagar

  • Home
  • Layanan Donatur
    • Registrasi Donatur
    • Konfirmasi Donasi
    • Rekening Donasi
    • Jemput Donasi
    • Login Donatur
  • Program
    • Be A Special
      • Penyerahan donasi beasiswa pendidikan
      • Be A Special
    • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
      • BERKAH KURBAN BAGI SESAMA
    • Nusa Indonesia
      • Rumah Zakat Menyalurkan Bantuan Pangan (Nutrisi Anak Spesial) kepada anak binaan CAGAR Foundation
      • Ucapan Terima kasih dan Apresiasi kepada yang telah berkontribusi untuk program nusa indonesia
      • PROGRAM NUSA
    • Program Kami
  • Panduan
    • Panduan Donasi Online
    • Panduan Jemput Donasi
    • Semua Panduan
  • Berita
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Kontak
  • Galeri
  • Donasi
20 Mei

Rumah Autis Rumah Keduaku (Kisah Inspiratif Guru Anak Berkebutuhan Khusus)

2019-05-20 13:28:20 By Cagar Foundation Berita 1102 Views

Lima belas tahun bukanlah rentang waktu yang singkat. Teramat panjang dan tak mudah melaluinya saat seorang anak manusia mengalami pergumulan hebat tentang jatidiri dan konsep hidup. Tapi Rokhyati mampu melaluinya.

Jalan hidup wanita kelahiran 7  Maret 1983 di Serang, Banten ini penuh liku. Yati, begitu sapaan akrabnya, sempat putus asa usai gagal lulus tes masuk perguruan tinggi negeri impiannya. Dunia seakan runtuh pada 2001 silam. Tak ada lagi semangat hidup karena mimpi indah menjadi mahasiswa di kampus favoritnya sirna.

Tapi alhamdulillah masa-masa kritis itu tak berlangsung lama. Yati bangkit. Anak  keenam dari sepuluh bersaudara itu memutuskan kuliah di sebuah universitas Islam di Jakarta. Yati mengambil Fakultas Pendidikan dengan konsentrasi Bimbingan Konseling. Gelar sarjana sukses diraihnya.

Yati tak hanya kuliah selama di kampus. Dia juga aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Kecuali itu, Yati pun aktif dalam  organisasi dakwah. Setiap pekan sekali Yati mengaji bersama rekan-rekannya. Dari sinilah jalan hidupnya berubah.

Pada pertengahan tahun 2004, Liqo’ mempertemukan dirinya dengan dua dari empat pendiri Rumah Autis yaitu Ismunawaroh dan Henny Ma’rifah. Jiwa pengajar dan bekal sebagai mahasiswa Bimbingan Konseling memanggilnya untuk bergabung dengan Rumah Autis.

Kala itu Rumah Autis berlokasi di Jalan Durian Jati Makmur. Setelah pelatihan selama sebulan wanita paruh baya ini akhirnya menjadi pekerja lepas seminggu tiga kali selama sekitar dua tahun. Murid pertama Rokhyati di Rumah Autis adalah Anna, Khalid, Rian dan Ma’ruf.

Selain mengajar di Rumah Autis, selama dua tahun dirinya menjadi guru di Sekolah Alam daerah Bojong Kulor - Vila Nusa Indah Dua. kemudian tahun 2007 Ismunawaroh selaku Direktur Rumah Autis meminta Rokhyati menjadi pengajar tetap. Satu tahun menjadi pengajar tetap timbul kegundahan pada hatinya, “mengapa gaji yang diterimanya sedikit? Padahal dirinya seorang sarjana pendidikan. Terjadi perperangan di dalam hatinya karena sudah pernah mendapatkan gaji yang lebih tinggi pada pekerjaan sebelumnya”.

Selama menjadi pekerja lepas dirinya menerima gaji dibawah 500 ribu rupiah dan setelah menjadi pekerja tetap, penerimaan nominal bertambah namun tetap dibawah satu juta rupiah. Bulan demi bulan hingga dua tahun Yati mengumpulkan slip gaji miliknya, ternyata perlahan namun pasti gajinya mulai naik secara bertahap, kegundahannya pun sirna oleh waktu dan kenyamanan yang dirasakannya setelah menjadi bagian dari Rumah Autis sekitar empat tahun.

Yati dipercayai untuk menjadi Kepala Sekolah cabang Bekasi (sekarang disebut Kepala Program) selama sekitar satu tahun. Kemudian bertanggung jawab atas Program BLK cabang Bekasi dan sukses memimpin timnya yaitu Ardani, Ade dan Hambali. Perpaduan antara produktivitas dan kreativitas mereka dalam melahirkan produk membuahkan hasil cukup memuaskan hingga dijadikan percontohan untuk cabang lainnya.

Karena kinerja yang baik dua tahun kemudian dirinya dipercayai menjadi Kepala Program Boarding pada tahun 2010 – 2011. Ketika itu Rumah Autis memiliki 4 siswa boarding dari Kalimantan dan anak yatim piatu. Namun dengan beberapa pertimbangan lembaga, program ini belum bisa dilanjutkan hingga saat ini. Sambil menimang buah hatinya yaitu Afla yang masih bayi, Yati mengajar anak-anak spesial di Rumah Autis.

Pada waktu yang bersamaan, dirinya mengaku banyak belajar ilmu kehidupan dari murid-murid spesialnya. Walaupun sempat tidak mendapatkan dukungan orang tua karena alasan pekerjaan yang kurang layak sebagai sarjana pendidikan, Rokhyati tidak tinggal diam dan terbawa emosi. Bahkan dirinya berhasil membuktikan kepada keluarga ketika Heri Purwanto menikahinya pada tahun 2010, dengan tidak membebankan biaya pernikahan kepada orang tuanya.

Yati merasakan banyak keberkahan dan ilmu kehidupan yang dirinya dapatkan selama menjadi guru di Rumah Autis. Wanita yang dikenal cukup ekspresif ini hanya mengharapkan balasan pahala dari Allah di akhirat kelak atas kebajikan yang telah dirinya lakukan, terutama terhadap murid-murid spesialnya. Yati memiliki hubungan baik dengan seluruh rekan kerjanya bahkan sangat dekat dengan beberapa Relawan Rumah Autis pada cabang lain.

15 tahun sudah Yati mengabdikan dirinya di Rumah Autis, mulai dari lima siswa hingga kini memiliki puluhan bahkan ratusan siswa. Berpeluh-peluh Rokhyati merintis karirnya sebagai seorang guru anak berkebutuhan khusus. Meskipun opini negatif dari lingkungan sekitar masih tetap menyerang dirinya, namun empati dan cintanya terhadap anak-anak spesial selalu meleburkan opini tersebut.

Beragam kisah telah Yati alami. Dia pernah tertimpa papan tulis karena ulah siswanya. Yati juga pernah menangis di depan Anna, salah seorang muridnya karena tidak bisa diatur. Belakangan Yati sadar bahwa dia tidak boleh menangis di depan Anna. Dirinya harus kuat dan mencari solusi terkait persoalan ABK, bukan justru menangis.

Saat toilet training, ada siswi sedang haid. Sang anak verbal tapi tidak terarah. Haidnya diacak-acak sehingga berceceran di toilet. Hampir satu jam di kamar mandi. Yati betul-betul berada di ujung batas kesabaran. Dia sudah mau nangis dan marah, tapi ditahannya.

Ketika siswa pertama kali terapi, disuruh duduk dan main tapi siswanya tidak mau. Sang anak tantrum hampir satu jam. Menendang-nendang dan melempar barang hingga membuat Yati benjol.

Tapi semua itu kini dianggapnya jadi cerita manis. Menurut ibu dua anak ini, murid-murid di Rumah Autis terlalu berharga untuk ditinggalkan, karena mereka sangat membutuhkan pertolongan dan bimbingan agar bisa menjadi individu yang lebih mandiri seperti anak-anak pada umumnya. Rumah Autis telah merubah pribadinya yang dahulu mudah marah, sulit beradaptasi dengan orang atau lingkungan baru, tidak percaya diri karena selalu merasa diri lemah dan rendah.

Kini Yati adalah sosok yang lebih percaya diri, sabar, penyayang, semakin banyak bersyukur, lebih mudah mengontrol emosi, peka terhadap kesulitan yang dialami orang di sekitarnya, dan merasakan peningkatan pertumbuhan rasa empati pada dirinya.

 

Rasa syukur terhadap karunia Allah atas dua buah hatinya Afla dan Aliya yang terlahir normal, mungkin tidak bisa dirasakan oleh sosok ibu lainnya yang tidak pernah mengajar anak berkebutuhan khusus. Rokhyati juga bersyukur karena kedua buah hatinya tidak takut berinteraksi dengan anak-anak spesial bahkan mereka mampu bermain bersama layaknya anak-anak normal. Walaupun buah hatinya tidak jarang menjadi sasaran teman-teman spesialnya ketika sedang bermain, namun Yati sejak awal telah menanamkan pada benak Afla dan Aliya perihal kondisi teman-temannya tersebut.

Rokhyati berharap Rumah Autis bisa terus berkembang dengan tetap menjembatani banyak orang yang ingin belajar dan mengetahui tentang dunia anak berkebutuhan khusus. Atmosfer yang sangat menjunjung rasa saling memiliki membuat Rokhyati menjadikan Rumah Autis sebagai rumah keduanya. Rokhyati kerap dilanda rasa merindu pada murid dan guru di cabang Bekasi ketika libur panjang. Dirinya berpesan kepada seluruh Relawan Rumah Autis, agar rasa kekeluargaan di tempat istimewa ini tetap dipertahankan sampai kapan pun. Ungkapan syukur dan terima kasih dari Rokhyati untuk seluruh relawan, terutama kehangatan relawan cabang Bekasi yang dirasakannya karena mereka telah mampu menerima kehadiran dirinya dan keluarga.   

Air mata haru membasahi pipi Yati ketika mengungkapkan ucapan terima kasih kepada lembaga Rumah Autis terutama Ismunawaroh dan Henny Ma’rifah karena telah mengajarkan dirinya aspek-aspek penting dalam mengarungi bahtera kehidupan terutama ilmu tentang keikhlasan. Tetap jaya Rumah Autis, Kita Peduli Mereka Mandiri. (fpw)

  • Share This Story

Program Kami

  • Be A Special
  • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
  • Nusa Indonesia
  • SEDEKAH JUM'AT
  • SUPER SPESIAL
  • RUMAH ISTIMEWA
  • MAPAN IBK (Program Kemandirian & Pemberdayaan Insan Berkemampuan Khusus)
  • Hasil Karya Mapan IBK

Berita Terbaru

  • Popular
  • Recent
  • Kisah Imam Al Warraq, Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus 2018-12-12 13:34:16
  • 10 Penyandang Disabilitas Di Indonesia Yang Berprestasi 2020-01-28 11:13:52
  • Kisah Anak-anak Penghafal Qur’an yang Akan Membuatmu Menangis Haru 2021-06-22 10:10:29
  • apa itu disabilitas sensorik? 2019-11-13 13:55:24
  • Akses Kesehatan untuk Semua: Skrining Jantung IDAI kepada Anak Berkebutuhan Khusus Rumah Autis Tanjung Priok 2026-04-09 10:05:43
  • Ramadhan Inklusif Bersama Cagar Foundation 2026-04-07 15:02:07
  • Ramadhan Ceria, Semua Anak Istimewa 2026-04-07 11:48:44
  • Petani Binaan CIF “Diserbu” 2026-01-29 10:37:30
  • >

About Us

YAYASAN CAHAYA KELUARGA FITRAH

  • Kantor  :  

    Jl.Dr.Ratna No.10 B, Jatikramat, Jatiasih. Bekasi.

  • Phone  : 

    (+62) 857 1539 2888

  • Email   :

    info.cagarfoundation@gmail.com

Social Media

Follow Our Social Media:

  • Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah
  • CagarFoundation
  • cagarfoundation

© Copyright 2023 | CAGAR Foundation