Anak berkebutuhan khusus kerap mengalami kesulitan dalam menempuh pendidikan di sekolah, meski biasanya sudah tersedia guru pendamping bagi mereka.
Willem de Jong, praktisi dan pemerhati pendidikan anak berkebutuhan khusus di Belanda mengungkapkan kurangnya pemahaman pada anak berkebutuhan khusus terjadi diberbagai belahan dunia.
Bahkan saat ia memulai bergelut dengan pendidikan anak berkebutuhan khusus sangat minim literatur atau buku penunjangnya.
“Harus ada guru profesional guru yang tahu tingkah laku yang dibutuhkan siswa. Mereka harus memahami cara yang tepat menangani anak sesuai dengan jenis kebutuhannya,” ujarnya dalam seminar ‘Pertolongan Psikologis Pertama Di Sekolah Pada Anak Dengan Autisme, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) serta Gangguan Perilaku Lainnya’ di Graha Sawunggaling, jalan Jimerto, Sabtu (20/10/2018).
Ia menambahkan, setiap guru harus terus membaca, belajar, dan melihat berbagai riset terbaru.
Kalau perlu sediakan satu hari penuh untuk membaca penuh.
“Ini salah satu solusi untuk mengetahui berbagai penanganan anak berkebutuhan khusus yang selalu berbeda,” lanjutnya
Namun saat ini juga ada beberapa sekolah yang memang memberikan kesempatan pendidikan yang terfokus pada anak autis juga mulai banyak di dunia.
Bahkan industri sudah mulai menerima anak autis atau berkebutuhan khusus untuk bekerja di bidang IT, beberapa juga menjadi scientiest.
Sementara itu, Julia Maria Van Tjel, orang tua serta praktisi dan pemerhati pendidikan anak berkebutuhan khusus mengungkapkan pengalamannya memiliki anak yang didefinisikan sebagai anak-anak cerdas istimewa (anak gifted)
“Anak saya sempat didiagnosa Autis karena saat kecil tumbuh kembangnya mengalami gangguan seperti telat berbicara hingga didiagnosa autis. Tetapi dia bisa membaca hingga menggambar 3 dimensi,” urainya.
Anak gifted biasanya baru bisa dikenali kalau sudah sekolah prestasinya baik, tapi highly gifted justru karena perkembangannya aneh antara lain terlambat bicara dan terlambat mengalami kematangan (maturity delayed).
Di awal sekolah dasar justru tidak nampak, yang tahu bahwa ia pandai biasanya justru orang tuanya yang seringkali malah kurang dipercaya kalau mengatakan anaknya pintar.
“Jadi dalam hal ini laporan orang tua harus sangat diperhatikan. Dan dokter tumbuh kembang harus memeriksa ulang bagaimana sejarah perkembangan anak-anak itu,” ujarnya.
Namun, pekerjaan besar di Indonesia menurutnya yaitu kurangnya ahli yang bisa mendiagnosa anak gifted ini. Sehingga kerap digolongkan anak autis atau ADHD.
Ketua Dharma Wanita Kota Surabaya Khusnul Ismiyati atau yang akrab disapa Iis Hendro Gunawan mengungkapkan seminar ini digelar sebagai salah satu agenda rutin Dharma Wanita.
Selain itu, seminar dengan mendatangkan ahli yang baru menjadi referensi pengetahuan baru dalam merencakan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
“Kami ingin mendapat pendapat dan ilmu baru agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa mencapai level terbaik. Karena hingga saat ini banyak orang tua dan tenaga pendidik yang masih belum bisa menangani anak berkebutuhan khusus. Sehingga lingkungan pendidikan bisa rawan akan bullying,” pungkasnya.
Sumber : surabaya.tribunnews.com
