Profil Donatur
       Logout
Phone: (+62) 857 1539 2888 info.cagarfoundation@gmail.com

Cagar

  • Home
  • Layanan Donatur
    • Registrasi Donatur
    • Konfirmasi Donasi
    • Rekening Donasi
    • Jemput Donasi
    • Login Donatur
  • Program
    • Be A Special
      • Penyerahan donasi beasiswa pendidikan
      • Be A Special
    • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
      • BERKAH KURBAN BAGI SESAMA
    • Nusa Indonesia
      • Rumah Zakat Menyalurkan Bantuan Pangan (Nutrisi Anak Spesial) kepada anak binaan CAGAR Foundation
      • Ucapan Terima kasih dan Apresiasi kepada yang telah berkontribusi untuk program nusa indonesia
      • PROGRAM NUSA
    • Program Kami
  • Panduan
    • Panduan Donasi Online
    • Panduan Jemput Donasi
    • Semua Panduan
  • Berita
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Kontak
  • Galeri
  • Donasi
20 Des

Kisah Anak-anak Berkebutuhan Khusus yang Sekolah di SD

2018-12-20 10:23:56 By Cagar Foundation Berita 1932 Views

Alifia Kamelia, siswi kelas 4 SDN Karangrejo 3 terlihat tekun menulis didampingi seorang guru. Beberapa kali mereka terlihat berbicara namun berbeda dengan komunikasi pada umumnya, guru yang mendampingi Alifia, dengan sabar beberapa kali mengulang jawaban yang ditanyakan oleh bocah perempuan berambut panjang tersebut sehingga Alifia benar-benar memahami. Alifia adalah salah satu siswa kebutuhan khusus. Sejak bayi, dia mengalami gangguan pendengaran sehingga kesulitan saat belajar berbicara. Baru saat masuk sekolah TK, Alifia mengenakan alat bantu dengar di kedua telinganya hingga saat ini, dia duduk di kelas 4 SD.

Ainur Joyo, ayah kandung Alifia kepada Kompas.com Jumat (22/9/2017) mengatakan, sengaja menyekolahkan anaknya di SDN Karangrejo 3 agar anaknya bisa bersosialisasi dengan murid umum lainnya. Selain itu, dia juga mendapatkan informasi jika sekolah yang berada di Kelurahan Karangrejo Kecamatan Kota Banyuwangi tersebut menerima anak kebutuhan khusus seperti anaknya. "Tidak banyak sekolah umum yang menerima anak kebutuhan khusus seperti Alifia. saya bersyukur dia bisa bersekolah disini. Dia semakin percaya diri, apalagi teman-temannya yang umum serta gurunya memahami kondisi Alifia. Tidak pernah anak saya mengadu jika di olok-olok karena kondisinya berbeda," ucap Ainur sambil mengelus rambut anaknya.

Dengan suara patah-patah. Alifia bercerita bahwa dia senang bisa bersekolah dan memiliki banyak teman yang baik. Dia mengaku sangat menyukai pelajaran matematika. "Kalau besar ingin jadi dokter," katanya sambil tersenyum. Berbeda dengan Alifia, Khairul Umum siswa kelas tiga penyandang autis, masih didampingi ibunya saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Bahkan sesekali Rachmawati, ibu kandung Umam menemani anak keempatnya didalam kelas. "Walaupun guru dan teman-temannya tahu kondisi Umam, tapi saya sadar bahwa gurunya juga butuh bantuan karena bukan hanya Umam yang diawasi dan diajar. Umam bisa bersekolah di sini saja saya sudah bersyukur luar biasa," kata Rahmawati.

Selain menempuh pendidikan di sekolah umum, Umam juga mengikuti terapi di luar sekolah. Walaupun jarak dari rumahnya menuju sekolah cukup jauh dan ditempuh dengan motor sekitar 20 menit, Rachmawati mengaku sengaja memilih SD Karangrejo agar anaknya lebih mandiri. Dia mengetahui sekolah tersebut dari tempat terapi. "TK nya dulu juga di sekolah inklusi dan saat lulus diarahkan ke sini. Jauh enggak apa-apa toh ini buat masa depan Umam agar dia mandiri," katanya.

Sementara itu Yayuk Prayuwati, kepala sekolah SDN Karangrejo 3 mengatakan, penerapan sekolah inklusi sudah dilakukan sejak 8 tahun lalu. Saat itu siswa pertama inklusi yang terima adalah siswa yang mengalami kelainan fisik pada kaki. "Kami terima karena tidak mungkin dia sekolah di SLB karena jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Jika kami tolak maka dia tidak sekolah. Dia siswa pertama kami sewindu yang lalu," ucap Yayuk. Sejak saat itu, setiap tahun selalu ada anak berkebutuhan khusus yang mendaftar menjadi murid. Mereka kebanyakan adalah warga yang tinggal di sekitar sekolah namun ada juga yang rumahnya jauh dari sekolah. Untuk memberikan pengajaran maksimal, pihak sekolah memberikan pelatihan khusus kepada dua guru pendamping untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus selama di sekolah.

Setiap seminggu sekali, sekolah juga mendatangkan dua guru dari SLB negeri untuk memberikan pelajaran tambahan kepada para siswa kebutuhan khusus serta bekerja sama dengan terapi dan psikolog anak. Kelas tersebut diadakan setiap hari Jumat mulai jam 08.00 wib sampai 11.00 di kelas khusus yang berada di belakang ruangan utama sekolah agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar lainnya. Disediakan juga alat peraga yang ramah dengan anak-anak kebutuhan khusus. Pada kelas khusus tersebut, dua guru pendamping juga ikut menemani proses mengajar tersebut. "Bukan hanya untuk pengajar tapi siswa umum juga kita ajarkan untuk memahami kondisi temannya yang kebutuhan khusus. Siswa umum juga kita bekali bahasa isyarat untuk mempermudah komunikasi mereka," jelas Yayuk sambil menunjukkan banner bahasa isyarat yang dipampang di dinding sekolah.

Saat ini dari 200-an siswa kelas 1 sampai kelas 6, ada sekitar 28 anak kebutuhan khusus yang menempuh pendidikan di SDN Karangrejo 3. Mereka rata-rata penyandang lambat belajar, namun ada juga yang autis, hiperaktif, tuna daksa ringan, dan tuna netra ringan. Sejak tahun 2014, SDN Karangrejo 3 menjadi sekolah percontohan inklusi setelah Banyuwangi mendeklarasikan gerakan pendididikan inklusi, di mana semua sekolah wajib menerima semua anak tanpa terkecuali, termasuk anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus. Sementara itu secara terpisah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan saat ini ada 275 guru yang mempunyai kompetensi sebagai pendamping anak berkemampuan khusus. Mereka juga telah melalui pendidikan dan pelatihan khusus. Para guru tersebut saat ini berada di 210 sekolah inklusi terdiri atas 55 PAUD, 89 SD/MI, 44 SMP/MTs, dan 22 SMA/SMK/MA dengan jumlah siswa mencapai 1.246 anak penyandang disabilitas dan anak berkemampuan khusus. "Kami ingin secara bertahap jumlah sekolah inklusi bertambah sehingga tidak ada lagi pengkotak-kotakan untuk pendidikan anak," kata Anas. 

Sumber : kompas.com
 



 

  • Share This Story

Program Kami

  • Be A Special
  • Qurbanisasi (Qurban Istimewa Nasional)
  • Nusa Indonesia
  • SEDEKAH JUM'AT
  • SUPER SPESIAL
  • RUMAH ISTIMEWA
  • MAPAN IBK (Program Kemandirian & Pemberdayaan Insan Berkemampuan Khusus)
  • Hasil Karya Mapan IBK

Berita Terbaru

  • Popular
  • Recent
  • Kisah Imam Al Warraq, Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus 2018-12-12 13:34:16
  • 10 Penyandang Disabilitas Di Indonesia Yang Berprestasi 2020-01-28 11:13:52
  • Kisah Anak-anak Penghafal Qur’an yang Akan Membuatmu Menangis Haru 2021-06-22 10:10:29
  • apa itu disabilitas sensorik? 2019-11-13 13:55:24
  • Qurban Spesial Semakin Istimewa 2026-06-09 14:14:43
  • Akses Kesehatan untuk Semua: Skrining Jantung IDAI kepada Anak Berkebutuhan Khusus Rumah Autis Tanjung Priok 2026-04-09 10:05:43
  • Ramadhan Inklusif Bersama Cagar Foundation 2026-04-07 15:02:07
  • Ramadhan Ceria, Semua Anak Istimewa 2026-04-07 11:48:44
  • >

About Us

YAYASAN CAHAYA KELUARGA FITRAH

  • Kantor  :  

    Jl.Dr.Ratna No.10 B, Jatikramat, Jatiasih. Bekasi.

  • Phone  : 

    (+62) 857 1539 2888

  • Email   :

    info.cagarfoundation@gmail.com

Social Media

Follow Our Social Media:

  • Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah
  • CagarFoundation
  • cagarfoundation

© Copyright 2023 | CAGAR Foundation