Memiliki anak yang sehat merupakan salah satu impian dari semua orang tua, begitu pula dengan ibu Lies , orang tua dari dito sang pencipta maestro karya seni, awal mula Dito mengidap autisme
Namun insting dari seorang ibu sangatlah pekat dan apalagi Dito adalah anak kesayangan dari ibu Lies, dengan naluri seorang ibu yang sangat kuat Lies melihat dito memiliki potensi untuk bisa jauh berkembang, ibu Lies pun ingin menjadikan anaknya sendiri menjadi anak yang mandiri.
Salah satu upaya sang ibu adalah terus membimbing dan mendampingi dito merintis karya awal hingga bisa Dito bisa mendapatkan penghasilan secara mandiri, dan sang ibu Lies sangat senang bisa selalu mendampingi anaknya Diito. sang ibupun selalu memberikan pendidikan yang terbaik untuk sang anak sampai duduk di bangkus SMA yang selalu di bimbing oleh para guru terapis, hingga Dito di masukkan ke dalam Universitas D3 di London School. dan dari semenjak dari dari situlah bakat Dito lambat laun semakin berkembang dengan bakat krajinan Tangan
Awal mula sang ibu tidak terbenak dalam fikiran akan menjual hasil karya Dito dikarenakan sang ibupun tidak tau harus di hargai berapa dari hasil krajinan tangan sang anak yaitu Dito, namun di karenakan dari rasa penasaran sang ibu, akhirnya sang ibupun mencoba menghubungi dan bergabung dengan Yayasan masyarakat peduli autisme indonesia ( YMPATI ) , dan dari sanalah ibu Lies di berikan agar karya hasil sang anak yaitu Dito untuk di ikut sertakan ke dalam sebuah pameran seni.
Yang berawal mula sang ibu tidak tahu hasil karya sang anak ingin di kemanakan, ternyata karya hasil tangan dari Dito ternyata bisa di kenal oleh banyak orang bahkan masyarakat dan sang ibupun tidak menyangka bahwa hasil karya tangan sang anak dapat juga membuah kan hasil.dan sang ibupun dengan meilhat hasil dari sang anak menyampaikan kepada seluruh masyarakat " jangan selalu meremehkan hasil dari anak yang mengindap autisme, dan kita bahkan tidak akan pernah tau bahwa dari anak yang mengidap autisme memiliki bakat yang luar biasa"
